Studi menemukan peristiwa geologi besar terjadi dalam siklus 27,5 juta tahun
Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa peristiwa paling dahsyat di Bumi, termasuk kepunahan massal dan letusan gunung berapi besar, telah mengikuti pola siklus yang terjadi kira-kira setiap 27 juta tahun. Peneliti dari University of Sydney dan University of the Sorbonne menganalisis catatan geologi selama 260 juta tahun terakhir, mengidentifikasi 10 kelompok bencana besar yang selaras dengan siklus jangka panjang ini.
Pola ini mempengaruhi seluruh planet, dengan setiap kelompok membawa gelombang peristiwa dahsyat seperti tumbukan asteroid, letusan basal banjir vulkanik, dan kepunahan massal spesies. Kelompok terbaru terjadi sekitar 7 juta tahun yang lalu, menunjukkan bahwa kelompok berikutnya mungkin tidak akan datang selama 20 juta tahun lagi. Namun, penulis utama studi, Profesor Michael Rampino, mencatat bahwa siklus ini tidak sepenuhnya teratur, dengan interval yang bervariasi beberapa juta tahun.
Penemuan ini penting karena memberikan kerangka baru untuk memahami sejarah geologi Bumi dan kekuatan yang membentuk kehidupan di planet kita. Para peneliti mengusulkan bahwa siklus ini mungkin didorong oleh pergerakan tata surya melalui Bima Sakti, yang secara periodik meningkatkan kemungkinan tumbukan komet. Studi ini, yang diterbitkan dalam jurnal Historical Biology, dibangun berdasarkan penelitian sebelumnya yang menunjukkan siklus 27 juta tahun dalam peristiwa kepunahan, tetapi analisis baru ini memperluas bukti untuk mencakup bencana besar lainnya.
Data spesifik dari studi menunjukkan bahwa 10 kelompok yang teridentifikasi termasuk kepunahan Permian-Trias (sekitar 252 juta tahun yang lalu), yang memusnahkan 96% spesies laut, dan kepunahan Kapur-Paleogen (66 juta tahun yang lalu) yang membunuh dinosaurus. Para peneliti juga mencatat bahwa siklus tersebut selaras dengan episode basal banjir yang diketahui, seperti Siberian Traps dan Deccan Traps.
Penelitian latar belakang telah lama memperdebatkan apakah bencana Bumi terjadi secara acak atau dalam siklus. Studi ini memperkuat kasus untuk pola siklus, yang mungkin terkait dengan orbit tata surya di sekitar pusat galaksi, yang memakan waktu sekitar 250 juta tahun. Tim tersebut menyarankan bahwa gangguan gravitasi dari lengan spiral galaksi dapat melepaskan komet dari Awan Oort, mengirimkannya menuju Bumi.
Ke depannya, para peneliti menekankan bahwa meskipun kelompok besar berikutnya masih jutaan tahun lagi, memahami siklus ini dapat membantu menyempurnakan model masa lalu dan masa depan Bumi. Mereka menyerukan penyelidikan lebih lanjut tentang mekanisme astronomi di balik pola tersebut, yang juga dapat memberikan wawasan tentang potensi peristiwa bencana di masa depan.
Sources
- Google News ScienceSecondary
Related
NASA: Geoid Bumi Bervariasi 191 Meter dalam Model Gravitasi
Semua Makhluk Hidup Memancarkan Cahaya Samar, Ilmuwan Eksplorasi Manfaat Medis
Astronom Amatir Temukan Kawah Meteorit Berusia 390 Juta Tahun via Google Maps
Badai Matahari Ekstrem Mungkin Tak Punya Batas Intensitas Atas, Riset Baru Peringatkan
Krisis Pendanaan Jodrell Bank Ancam 'Brain Drain' Fisika Inggris
Jejak Kaki Fosil Ungkap Kerabat Manusia 1,4 Juta Tahun Lalu Bepergian dalam Kelompok Semua Jantan
Pengayaan laser dapat memproses ulang limbah nuklir menjadi bahan bakar reaktor
Komputer organoid otak menimbulkan kekhawatiran etis, peringatan peneliti
Trending now
- Apple akan Luncurkan Tiga Produk Smart Home dengan Siri AI
- Sutradara Chuck Russell, Sutradara The Mask, Meninggal di Usia 74
- Ford Rilis Laba Q2 di Tengah Penurunan Penjualan Dua Digit
- Saham Corning Anjlok 16% Usai Laba, Hari Terburuk dalam 24 Tahun
- iPad Tahan Air Pertama Apple Akan Diluncurkan Akhir Tahun Ini
- 14 Gajah Mati Misterius di Kenya, Tertinggi dalam Beberapa Dekade
- Xbox salahkan layanan lisensi atas pemadaman 'tak bisa diterima'
- NASA: Geoid Bumi Bervariasi 191 Meter dalam Model Gravitasi
Comments
No comments yet. Be the first.