Otomotif

Penjualan EV Cetak Rekor di 50 Negara Saat Krisis Minyak

2 min read

Penjualan EV Cetak Rekor di 50 Negara Saat Krisis Minyak
Photo: Luke Miller · Unsplash
0 0
XWhatsAppTelegramLinkedIn

Penjualan kendaraan listrik mencapai rekor di 50 negara selama kuartal kedua 2026, membuat mobil bertenaga baterai dan plug-in hybrid berada di jalur untuk menguasai 29 persen pasar otomotif global tahun ini, lapor Badan Energi Internasional (IEA) pada 30 Juli 2026.

Penjualan global EV dan plug-in hybrid naik 4 persen dari tahun sebelumnya dan melonjak 35 persen dibandingkan kuartal pertama, kata IEA.

IEA mengaitkan lonjakan ini terutama dengan kenaikan harga bahan bakar yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran, dengan catatan bahwa kendaraan darat mengonsumsi hampir setengah minyak dunia, membuat sektor ini rentan terhadap guncangan pasokan.

Peningkatan ini terjadi meskipun pasar otomotif secara umum sedang lesu. Penjualan mobil global menyusut 5 persen pada paruh pertama 2026, tertekan oleh penurunan pengiriman di China dan Amerika Serikat, dua pasar terbesar.

Penjualan mobil listrik AS sebelumnya sudah melambat setelah pemerintahan Trump menghapus kredit pajak federal untuk EV dan melonggarkan aturan efisiensi bahan bakar untuk kendaraan bermesin bakar.

Sebaliknya, konsumen di negara lain berbondong-bondong membeli EV. India, Brasil, Australia, dan Korea Selatan semuanya mencatat rekor pada paruh pertama.

Eropa juga mencatat pertumbuhan kuat. Di Inggris, registrasi kendaraan listrik baterai naik 35 persen pada paruh pertama dibandingkan tahun sebelumnya, menurut Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT). Secara total, BEV dan plug-in hybrid mencakup 36 persen registrasi mobil di Inggris sejauh ini pada 2026, kata SMMT.

China menjadi penerima manfaat terbesar dari gelombang listrik, dengan produsen mobil seperti BYD berekspansi ke Eropa dan pasar lain. Pangsa mobil listrik dalam ekspor negara itu melonjak dari sekitar 35 persen pada 2025 menjadi lebih dari 45 persen pada paruh pertama 2026, lapor IEA. Namun, pabrik-pabrik China memproduksi lebih banyak EV daripada yang terjual, dengan perkiraan satu juta unit EV tidak terjual menumpuk.

IEA juga menyoroti dominasi China dalam rantai nilai baterai, dengan rantai pasokan terintegrasi, kemampuan baterai yang kuat, dan biaya produksi sekitar 35 persen lebih rendah dibandingkan negara maju.

IEA memperingatkan bahwa negara lain perlu upaya terkoordinasi antara pemerintah dan industri untuk menutup kesenjangan biaya tersebut.

Sources

Report / request removal

Related

Comments

No comments yet. Be the first.