Studi Menunjukkan Pemahaman tentang Alam Semesta Mungkin Salah
Sebuah studi baru menunjukkan bahwa model standar kosmologi, yang menggambarkan struktur dan evolusi alam semesta, mungkin cacat. Peneliti yang menganalisis data dari Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI) menemukan bahwa laju ekspansi alam semesta tampak bervariasi tergantung pada arah yang diamati, bertentangan dengan asumsi bahwa kosmos bersifat isotropik—sama di semua arah. Temuan ini menantang dasar fundamental kosmologi modern.
Studi yang dipimpin oleh peneliti di University of Canterbury di Selandia Baru ini memeriksa lebih dari satu juta galaksi dan quasar. Tim menemukan bahwa laju ekspansi alam semesta, yang dikenal sebagai konstanta Hubble, berbeda hingga 1% antara arah yang berlawanan di langit. Anomali ini, jika dikonfirmasi, akan menyiratkan bahwa pemahaman kita tentang struktur skala besar alam semesta tidak lengkap.
Implikasinya sangat mendalam. Model standar kosmologi, yang bergantung pada prinsip isotropi, mendasari segala sesuatu mulai dari teori Big Bang hingga sifat energi gelap. Jika alam semesta tidak isotropik, hal ini dapat memaksa revisi besar terhadap teori-teori ini. Temuan ini juga mengisyaratkan kemungkinan fisika baru di luar model saat ini.
Angka spesifik dari studi menunjukkan bahwa konstanta Hubble bervariasi sekitar 1% di seluruh langit, dengan signifikansi statistik 3,9 sigma—artinya ada kemungkinan yang sangat rendah (sekitar 1 banding 50.000) bahwa hasil tersebut karena kebetulan. Data dikumpulkan oleh DESI, yang memetakan sejarah ekspansi alam semesta selama 11 miliar tahun.
Studi sebelumnya, seperti yang menggunakan Cosmic Microwave Background, telah mengasumsikan isotropi. Analisis baru ini adalah salah satu yang pertama menguji asumsi tersebut secara langsung dengan kumpulan data sebesar ini. Para peneliti mengingatkan bahwa pengamatan lebih lanjut diperlukan untuk mengesampingkan kesalahan sistematis.
Langkah selanjutnya termasuk analisis lebih rinci data DESI dan pemeriksaan silang dengan survei lain seperti teleskop luar angkasa Euclid. Jika anomali tersebut bertahan, hal ini dapat menyebabkan pergeseran paradigma dalam kosmologi, memaksa para ilmuwan untuk mempertimbangkan kembali hukum-hukum fundamental yang mengatur alam semesta.
Sources
- Google News ScienceSecondary
Related
Badai Matahari Ekstrem Mungkin Tak Punya Batas Intensitas Atas, Riset Baru Peringatkan
Krisis Pendanaan Jodrell Bank Ancam 'Brain Drain' Fisika Inggris
Jejak Kaki Fosil Ungkap Kerabat Manusia 1,4 Juta Tahun Lalu Bepergian dalam Kelompok Semua Jantan
Pengayaan laser dapat memproses ulang limbah nuklir menjadi bahan bakar reaktor
Komputer organoid otak menimbulkan kekhawatiran etis, peringatan peneliti
Studi menemukan peristiwa geologi besar terjadi dalam siklus 27,5 juta tahun
Ilmuwan Peringatkan Laut Kehilangan Oksigen Saat El Niño Memasak Pasifik
'Dr Death' Gunther von Hagens, Pencipta Body Worlds, Meninggal di Usia 81
Trending now
- Apple akan Luncurkan Tiga Produk Smart Home dengan Siri AI
- Trailer 'Avengers: Doomsday' debut di Comic-Con, Doctor Doom pimpin Sentinels lawan pahlawan
- Kompetisi Fotografer Astronomi Tahun Ini Menampilkan Gambar-Gambar Menakjubkan
- Trailer Comic-Con 2026 Dirilis untuk Carrie, Reacher, Queen of the Damned
- Nintendo Switch 2 terjual lebih dari 6 juta unit di Jepang
- Paramount/WBD merger ditunda hingga setelah persidangan atau Juni 2027
- Webb menemukan galaksi matang di alam semesta awal, menantang model
- AegisAI kumpulkan $36M untuk melawan spear phishing bertenaga AI
Comments
No comments yet. Be the first.