Sains

Peningkatan Kadar CO2 Mungkin Terlihat dalam Darah Manusia, Menimbulkan Risiko Toksisitas dalam 50 Tahun

2 min read

0 0
XWhatsAppTelegramLinkedIn

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer mungkin sudah terdeteksi dalam darah manusia, dan peneliti memperingatkan bahwa dalam 50 tahun, udara luar ruangan bisa menjadi "berpotensi beracun" bagi manusia. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal *Sustainability* ini mengindikasikan bahwa konsentrasi CO2 di udara mendekati tingkat yang dapat mengganggu fungsi kognitif dan menimbulkan risiko kesehatan bagi populasi umum.

Studi ini memengaruhi semua orang yang menghirup udara luar ruangan, tetapi kelompok yang sangat rentan termasuk anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi pernapasan. Saat kadar CO2 meningkat, gas tersebut terakumulasi di ruang tertutup dan dapat masuk ke aliran darah, berpotensi menyebabkan penurunan kemampuan pengambilan keputusan, sakit kepala, dan kantuk. Para peneliti menekankan bahwa ini bukan hanya masalah dalam ruangan—konsentrasi CO2 di luar ruangan juga meningkat.

Hal ini penting karena model iklim saat ini memproyeksikan bahwa pada tahun 2070, CO2 atmosfer dapat mencapai 550 bagian per juta (ppm) atau lebih tinggi, tingkat yang telah dikaitkan dengan penurunan kognitif dalam beberapa studi. Penulis utama studi, Dr. Mark Jacobson dari Universitas Stanford, mencatat bahwa pada 1.000 ppm, standar kualitas udara dalam ruangan sudah dianggap buruk, dan tingkat luar ruangan diperkirakan akan melampaui ambang batas tersebut di banyak daerah perkotaan dalam beberapa dekade.

Sumber tersebut memberikan angka spesifik: rata-rata global CO2 saat ini sekitar 420 ppm, naik dari 280 ppm sebelum Revolusi Industri. Studi ini memperingatkan bahwa jika emisi terus tidak terkendali, CO2 luar ruangan bisa mencapai 550 ppm pada tahun 2070, dan di kota-kota dengan ventilasi buruk, tingkatnya bisa melonjak lebih tinggi. Penelitian ini dibangun dari penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa CO2 pada 1.000 ppm mengganggu kinerja kognitif manusia sebesar 15-50%.

Latar belakang: Studi ini adalah bagian dari penelitian yang berkembang tentang efek fisiologis langsung CO2, di luar perannya dalam perubahan iklim. Studi sebelumnya berfokus pada lingkungan dalam ruangan, tetapi makalah ini memperluas kekhawatiran ke udara luar ruangan. Penulis mencatat bahwa CO2 larut dalam darah, membentuk asam karbonat, yang dapat mengubah pH darah dan memengaruhi pengiriman oksigen.

Langkah selanjutnya yang mungkin, menurut sumber, termasuk seruan mendesak untuk pengurangan emisi yang lebih ketat dan lebih banyak penelitian tentang paparan CO2 tingkat rendah kronis. Studi ini menyarankan bahwa pemerintah mungkin perlu mempertimbangkan CO2 sebagai polutan langsung, bukan hanya gas rumah kaca, dan memperbarui pedoman kualitas udara yang sesuai. Tanpa tindakan, para peneliti memperingatkan, "atmosfer yang berpotensi beracun" bisa menjadi kenyataan dalam setengah abad.

Sources

Report / request removal

Related

Comments

No comments yet. Be the first.