Kecerdasan buatan

China memberlakukan undang-undang untuk membatasi pendamping AI di tengah kekhawatiran angka kelahiran

2 min read

0 0
XWhatsAppTelegramLinkedIn

China telah memberlakukan undang-undang baru yang menargetkan chatbot pendamping AI, termasuk pacar virtual, sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengatasi penurunan angka kelahiran di negara tersebut. Peraturan yang mulai berlaku pada awal tahun 2025 ini membatasi bagaimana sistem AI ini dapat berinteraksi dengan pengguna, terutama dalam hal romantis atau emosional yang intim. Langkah ini didorong oleh kekhawatiran bahwa hubungan digital semacam itu menghalangi hubungan manusia nyata dan pernikahan, sehingga berkontribusi pada krisis demografi China.

Aturan baru ini memengaruhi jutaan pengguna aplikasi pendamping AI, yang telah populer di China, terutama di kalangan dewasa muda. Aplikasi ini sering mensimulasikan pasangan romantis, menawarkan percakapan, dukungan emosional, dan bahkan kencan virtual. Pemerintah memandang tren ini memperburuk fenomena 'lying flat', di mana anak muda menarik diri dari tekanan sosial, termasuk pernikahan dan menjadi orang tua. Dengan membatasi pendamping AI, Beijing berharap dapat mengarahkan warga untuk membentuk hubungan nyata dan memiliki anak.

Menurut statistik resmi, angka kelahiran China turun menjadi 6,39 kelahiran per 1.000 orang pada tahun 2023, salah satu yang terendah dalam sejarahnya. Populasi menyusut untuk tahun kedua berturut-turut, dengan penurunan 2,08 juta orang pada tahun 2023. Pemerintah telah menerapkan berbagai langkah untuk meningkatkan kesuburan, termasuk insentif tunai, perpanjangan cuti orang tua, dan larangan praktik perekrutan diskriminatif terhadap wanita menikah. Undang-undang pendamping AI yang baru adalah yang terbaru dalam serangkaian intervensi ini.

Peraturan tersebut mewajibkan aplikasi pendamping AI untuk membatasi konten romantis atau seksual, mencegah pengguna mengembangkan ketergantungan emosional, dan menyertakan pengingat bahwa AI bukanlah manusia nyata. Perusahaan juga harus menerapkan verifikasi usia dan membatasi akses untuk anak di bawah umur. Pelanggar menghadapi denda dan potensi penangguhan layanan. Undang-undang ini dibangun di atas tindakan keras sebelumnya terhadap 'idola virtual' dan konten buatan AI yang dianggap merusak nilai-nilai sosial.

Para ahli memperkirakan undang-undang baru ini akan secara signifikan mengurangi popularitas aplikasi pendamping AI, yang berpotensi mendorong beberapa pengguna ke alternatif bawah tanah atau asing. Namun, penegakan hukum mungkin menantang mengingat sifat chatbot AI yang terdesentralisasi. Pemerintah diperkirakan akan memantau kepatuhan secara ketat dan dapat memperkenalkan langkah-langkah lebih lanjut jika angka kelahiran tidak membaik. Dampak jangka panjang terhadap tren demografi China masih belum pasti, tetapi undang-undang ini menandakan upaya negara yang tegas untuk membentuk kembali perilaku sosial melalui regulasi teknologi.

Sources

Report / request removal

Related

Comments

No comments yet. Be the first.