Antariksa

Aditya-L1: Sambungan Magnetik Sumbang 93% Panas Korona

Published 14 Agu 2026, 02.171 min readNewUJ Editorial Desk

Aditya-L1: Sambungan Magnetik Sumbang 93% Panas Korona
Photo: SpaceX · Unsplash
0 0
XWhatsAppTelegramLinkedIn

Sambungan ulang magnetik menyumbang 93% energi yang menjaga korona Matahari tetap bersuhu jutaan derajat Celsius, sementara gerakan gelembung di permukaan Matahari hanya menyumbang 7%, menurut sebuah studi yang diterbitkan di Astrophysical Journal Letters.

Dipimpin oleh Prof R Ramesh dari Institut Astrofisika India, penelitian ini menggunakan data dari misi matahari Aditya-L1 India untuk menjelaskan mengapa korona—lapisan terluar Matahari—tetap jauh lebih panas daripada fotosfer dan bagaimana ia pulih setelah lontaran massa korona.

Korona rata-rata bersuhu sekitar 2 juta Celsius dan dapat melonjak hingga 40 juta Celsius, dibandingkan dengan sekitar 5.500 Celsius di fotosfer dan 15 juta Celsius di inti.

Lontaran massa korona dan suar berasal dari korona dan dapat memicu badai geomagnetik yang mengganggu jaringan listrik, satelit, dan komunikasi di Bumi.

Selama periode tenang, Matahari melontarkan dua hingga tiga CME per hari; selama maksimum matahari 11 tahun, ia dapat melontarkan 10 atau lebih. Setiap peristiwa melepaskan energi dalam jumlah besar, namun korona tidak mendingin.

Dengan menggunakan Koronagraf Garis Emisi Tampak (Velc) milik Aditya-L1, tim menganalisis CME yang sangat energik pada 5 Agustus 2024. Dalam waktu 10 jam, garis-garis medan magnet yang kusut terhubung kembali dan memulihkan energi korona.

Ramesh mengatakan temuan ini "memberikan tolok ukur penting" untuk studi masa depan tentang pembangkitan energi di atmosfer Matahari dan harus membantu menjawab pertanyaan fisika fundamental yang saat ini tidak masuk akal.

Sources

Report / request removal

Related

Comments

No comments yet. Be the first.