Robot NASA kehilangan kendali setelah kegagalan komponen
Pada 28 Juli 2026, misi servis orbit NASA mengalami kemunduran kritis ketika pesawat ruang angkasa LINK, yang dibangun oleh Katalyst Space Technologies, mulai berputar tak terkendali di orbit. Pesawat ruang angkasa yang dirancang untuk merapat dan memposisikan ulang teleskop tua ini mengalami kegagalan pada komponen kunci tak lama setelah peluncuran, sehingga tidak mampu menstabilkan dirinya. Insiden ini membahayakan misi berisiko tinggi yang bertujuan memperpanjang umur aset ilmiah vital, dan para insinyur kini berlomba mendiagnosis masalah sebelum orbit pesawat membusuk atau bertabrakan dengan objek lain. Pesawat ruang angkasa LINK dikontrak oleh NASA untuk melakukan manuver rumit: bertemu dengan teleskop orbit besar, menempel padanya, dan mendorongnya ke orbit yang lebih tinggi dan lebih stabil. Teleskop yang telah beroperasi selama puluhan tahun ini merupakan pilar penelitian astronomi, dan peluruhan orbitnya yang bertahap mengancam akan mengakhiri misinya secara prematur. Kegagalan sistem kontrol sikap LINK berarti pesawat tidak dapat mengorientasikan dirinya, membuat upaya docking tidak mungkin dilakukan dan menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan teleskop dan satelit lain di sekitarnya. Menurut Katalyst, anomali terjadi setelah serangkaian kegagalan komponen yang mengompromikan kemampuan pesawat untuk mempertahankan orientasinya. Meskipun penyebab pastinya masih diselidiki, telemetri awal menunjukkan kerusakan pada roda reaksi atau pendorong, yang penting untuk manuver presisi. Perusahaan belum mengungkapkan apakah kegagalan terkait dengan cacat perangkat keras, gangguan perangkat lunak, atau faktor lingkungan, tetapi dewan peninjau anomali penuh telah dibentuk. Misi yang diluncurkan awal tahun 2026 ini dipandang sebagai upaya perintis dalam servis satelit, bidang yang dikembangkan NASA dan mitra komersial untuk mengurangi puing antariksa dan memperpanjang umur operasional aset orbit yang mahal. Jika LINK tidak dapat dipulihkan, orbit teleskop akan terus membusuk, berpotensi menyebabkan masuknya kembali tak terkendali dalam beberapa tahun ke depan. Ini tidak hanya akan mengakibatkan hilangnya platform ilmiah senilai miliaran dolar, tetapi juga menciptakan bahaya bagi pesawat ruang angkasa lain. NASA dan Katalyst sedang menjajaki opsi untuk mendapatkan kembali kendali, termasuk mengirimkan tambalan perangkat lunak atau menggunakan sistem cadangan, tetapi gerakan berputar mempersulit komunikasi dan pembangkit listrik. Insiden ini menggarisbawahi tantangan teknis yang sangat besar dalam servis di orbit, kemampuan yang semakin kritis seiring dengan semakin padatnya ruang angkasa. Pakar industri mencatat bahwa meskipun beberapa perusahaan telah mendemonstrasikan docking dan pengisian bahan bakar, presisi yang diperlukan untuk misi semacam itu menyisakan sedikit ruang untuk kesalahan. Hasil upaya pemulihan LINK kemungkinan akan mempengaruhi kontrak NASA di masa depan dan kerangka regulasi untuk misi servis komersial.
Sources
- TechCrunchSecondary
- Google News ScienceSecondary
Related
Misi Penyelamatan Swift NASA Alami Masalah Kontrol Sikap
Satelit Penyelamat Swift NASA Kehilangan 2 dari 3 Roda Reaksi
Roket Falcon 9 Tabrak Bulan dengan Energi 11,8 Gigajoule
Teleskop Radio Deteksi Sampah Antariksa di Siang Hari untuk Pertama Kalinya
Bintang Pendamping Betelgeuse Tertangkap dalam Gambar Terjelas
JWST Tak Temukan Bola Dyson di Sekitar Dua Bintang Kandidat
Astronom Temukan Lubang Hitam Pengembara Langka yang Mencabik Bintang
Roket SpaceX Akan Tabrak Bulan dengan Kecepatan 5.400 MPH
Trending now
- Kenya Selidiki Kematian 15 Gajah di Taman Amboseli
- Biaya Pendanaan Pusat Data AI Meta Naik dalam Kesepakatan $14 Miliar dengan BlackRock
- Cyera akuisisi Oasis Security senilai $1 miliar, akuisisi ketiga tahun ini
- Misi Penyelamatan Swift NASA Alami Masalah Kontrol Sikap
- American Airlines Hentikan Semua Penerbangan Nasional Akibat Gangguan IT
- Laba SK Hynix Q2 Melonjak 557% ke Rekor Tertinggi
- 1.100 Staf AI Desak AS Perlambat Pertumbuhan Teknologi
- Peretasan ChatGPT Lumpuhkan Perusahaan Teknologi, Panggilan Darurat Digelar
Comments
No comments yet. Be the first.