American Airlines memangkas prospek pendapatan 2026 karena lonjakan biaya bahan bakar
American Airlines telah memangkas prospek pendapatannya untuk tahun 2026, dengan alasan lonjakan tajam biaya bahan bakar jet yang diperkirakan akan menekan laba. Maskapai kini memproyeksikan laba per saham yang disesuaikan sebesar $1,50 hingga $2,50 untuk tahun 2026, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar $3,00 hingga $4,00. Revisi ini terjadi ketika harga bahan bakar telah melonjak lebih dari 30% sejak awal tahun, menambah biaya tak terduga miliaran dolar.
Panduan yang lebih rendah ini mempengaruhi pemegang saham dan karyawan American Airlines, serta para pelancong yang mungkin menghadapi tarif lebih tinggi jika maskapai berusaha mengimbangi biaya. Perusahaan memperingatkan bahwa mereka bahkan bisa melaporkan kerugian pada kuartal kedua tahun 2026 jika harga bahan bakar tetap tinggi. Ini merupakan pembalikan tajam dari optimisme sebelumnya, ketika maskapai memperkirakan tahun yang kuat didorong oleh permintaan perjalanan yang kuat.
Berita ini penting karena American adalah salah satu maskapai terbesar di AS, dan perjuangannya menandakan tekanan industri yang lebih luas dari kenaikan biaya bahan bakar. Harga bahan bakar jet yang lebih tinggi menggerus margin di seluruh sektor, berpotensi menyebabkan pengurangan kapasitas, harga tiket yang lebih tinggi, atau kinerja keuangan yang lebih lemah bagi maskapai yang tidak dapat sepenuhnya membebankan biaya. Peringatan ini juga menggarisbawahi bagaimana pasar energi yang volatil dapat mengganggu perencanaan perusahaan.
Menurut pernyataan perusahaan, bahan bakar jet kini menyumbang sekitar 30% dari biaya operasionalnya. Maskapai sebelumnya telah melakukan lindung nilai atas beberapa pembelian bahan bakar, tetapi lindung nilai tersebut tidak sepenuhnya melindunginya dari lonjakan harga baru-baru ini. American melaporkan kerugian bersih sebesar $545 juta pada kuartal pertama tahun 2026, sebagian karena biaya bahan bakar, dan sekarang memperkirakan hasil yang sama atau lebih buruk pada kuartal saat ini.
Latar belakang: American Airlines telah pulih dari kemerosotan era pandemi, mencatat laba pada tahun 2024 dan awal 2025 seiring pemulihan perjalanan. Namun, ketegangan geopolitik dan pemotongan produksi OPEC+ telah mendorong harga minyak mentah dan bahan bakar jet lebih tinggi dalam beberapa bulan terakhir. Maskapai telah memangkas rencana pertumbuhan kapasitas tahun 2026 pada bulan Maret, tetapi prospek pendapatan baru mencerminkan dampak yang lebih parah.
Ke depan, American Airlines mengatakan akan terus memantau harga bahan bakar dan mungkin menyesuaikan jadwal atau struktur biayanya lebih lanjut. Analis memperkirakan maskapai akan fokus pada pengurangan utang dan efisiensi operasional, tetapi jika biaya bahan bakar tetap tinggi, pemotongan lebih lanjut pada perkiraan pendapatan atau kapasitas dapat terjadi. Laporan kuartalan perusahaan berikutnya dijadwalkan pada Juli 2026.
Sources
- Google News BusinessSecondary
Related
Laba SK Hynix Q2 Melonjak 557% ke Rekor Tertinggi
Ford Rilis Laba Q2 di Tengah Penurunan Penjualan Dua Digit
Shein Hadapi Investigasi FTC Jelang IPO Hong Kong
Visa PHK 7% Karyawan dalam Restrukturisasi
UPS Lampaui Ekspektasi Q2, Naikkan Proyeksi Pendapatan Tahunan
Coca-Cola Naikkan Proyeksi Laba Setahun Penuh Berkat Penjualan Kuat
Unilever Peringatkan Kenaikan Harga Lebih Lanjut di Tengah Biaya yang Meningkat
Insinyur Samsung Hengkang ke SK Hynix demi Bonus Rp7,4 Miliar
Trending now
- Kenya Selidiki Kematian 15 Gajah di Taman Amboseli
- Biaya Pendanaan Pusat Data AI Meta Naik dalam Kesepakatan $14 Miliar dengan BlackRock
- Cyera akuisisi Oasis Security senilai $1 miliar, akuisisi ketiga tahun ini
- Misi Penyelamatan Swift NASA Alami Masalah Kontrol Sikap
- American Airlines Hentikan Semua Penerbangan Nasional Akibat Gangguan IT
- Laba SK Hynix Q2 Melonjak 557% ke Rekor Tertinggi
- 1.100 Staf AI Desak AS Perlambat Pertumbuhan Teknologi
- Peretasan ChatGPT Lumpuhkan Perusahaan Teknologi, Panggilan Darurat Digelar
Comments
No comments yet. Be the first.